Rakit yang menyebrangi antara Jalan Nanjung dan Jalan Pamentasaan
sudah ada sejak tahun 1942. Rakit
ini diwariskan dari kakek buyutnya secara turun-temurun hingga kini. Dari mulai
buyutnya yang sudah mengais rezkinya sejak tahun 1942 hingga tahun 1964, sejak
buyutnya meninggal rakit ini diwaris pada anaknya. Kemudia n anaknya mengais Rizki sejak tahun 1996.
Ditahun 1996 anaknya pun meninggal dunia. Kini rakit ini diwariskan kepada
cucunya sejak 1996 hingga kini. Dahulu sebelum terbangunya jembatan yang
menghubungkan antara Jalan Nanjung dan Jalan Pamentasaan, kini dienal sebagai
jalan tembus dari Jalan Pamentasan menuju Jalan Terusan Taman Kopo Indah III. Pendapatan
di masa yang silam mencapai Rp 300.000 perharinya itu pun di era masa tahun 40an
hingga 50an, di era itu jarang sekali jembatan yang di bangun untuk menyebrangi
sungai, maka hanya transportasi inilah yang dapat melewati sungai tersebut di
masanya. Namun di era modern ini yang terus berkembangnya suatu teknologi
dibangunlah jembatan yang menghubungkan Jalan Nanjung dan Jalan Pamentasaan. Maka
sangat berpengaruh sekali bagi seorang penarik rakit. Karena dimasa modern ini
jarang sekali menyebrang menggunakan rakit. Di era modern ini pendapatan
seorang penarik rakit hanya Rp 10.000 hingga 20.000 saja perharinya. Itu pun
jika banyak yang menaiki rakit dan cuaca yang mendukung serta kondisi volume
air sungai citarum yang diaanggap aman. Apabila musim penghujan sering kali
volume air di sungai citarum meningkat. Terpaksa seorang penarik rakit tidak
menjalani profesinya. Jika seorang penarik rakit bekerja dengan cuaca yang
tidak mendukung bisa merenggut nyawanya.
Perkerjaan menjadi seorang penarik
rakit tidaklah semudah yang bayangkan atau kita lihat. Seorang penarik rakit
harus mempuyai tenaga yang cukup kuat. Karena agar bisa menyebrangi sungai
citarum rakit ini ditarik melalui kabel kawat yang cukup tebal dan ditalikan
dari ujung tepi ke ujung tepi lainnya. Menarik kabel kawat ini tidak lah
memakai mesin, bahkan secara manual ditarik oleh tangan seorang penarik rakit, serta
seorang penarik rakit harulah bisa melawan arus aliran sungai citarum yang
cukup deras, jika tidak sekuat tenaga rakit akan terbawa arus sungai. Di masa
modern ini hanya tinggal beberapa orang saja yang akan menyebrangi sungai
menggunakan rakit. kemudian Seorang penarik rakit di era modern ini sangatlah
sulit dijumpai. Pekerjaan yang sungguh mengacu adrenalin dan bahkan bisa
merenggut nyawanya hanya demi mengais Rizki untuk keluarga dan anaknya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar